MsReinata’s Library

A curated reading space shaped by reflection and restraint,
where books are not consumed, but encountered,
and ideas are allowed to unfold in their own time.

Keabsahan AJB atas Hak Guna Bangunan di atas Hak Pengelolaan (HPL) dan Pertanggungjawaban PPAT

Keabsahan AJB atas Hak Guna Bangunan di atas Hak Pengelolaan (HPL) dan Pertanggungjawaban PPAT

Analisa Yuridis Syarat Formil Pengalihan HGB di atas HPL

I. Isu Hukum

  1. Apakah AJB dengan objek Hak Guna Bangunan (HGB) di atas Hak Pengelolaan (HPL) sah secara hukum apabila dibuat tanpa izin atau persetujuan tertulis dari pemegang HPL?
  2. Bagaimana bentuk pertanggungjawaban PPAT yang membuat AJB tersebut?

II. Kedudukan Hak Pengelolaan (HPL) dalam Sistem Hukum Tanah

Dalam hukum tanah nasional dikenal tiga status tanah: tanah negara, tanah hak, dan tanah ulayat. Hak Pengelolaan (HPL) tidak termasuk hak atas tanah, melainkan merupakan pelimpahan sebagian kewenangan Hak Menguasai Negara.

Pandangan doktrin:

  • Boedi Harsono menegaskan HPL bukan hak atas tanah, melainkan “gempilan” hak menguasai negara.
  • Maria S.W. Sumardjono menyatakan HPL adalah bagian dari kewenangan negara yang dilimpahkan kepada pemegangnya.

Hal ini sejalan dengan Pasal 2 ayat (2) UUPA, PP 40/1996, dan PMNA/KBPN No. 9 Tahun 1999.

Konsekuensinya, setiap penggunaan, pengalihan, atau pembebanan hak atas tanah yang berada di atas HPL tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berada dalam koridor pengawasan pemegang HPL.

III. Cara Sah Perolehan dan Penggunaan HGB di atas HPL

HGB atau Hak Pakai yang berasal dari tanah HPL lahir dari hubungan hukum antara pemegang HPL dan pihak ketiga melalui:

  1. Perjanjian Penggunaan Tanah;
  2. Penunjukan atau persetujuan pemegang HPL;
  3. Pemberian hak oleh pejabat berwenang;
  4. Pendaftaran hak.

IV. Keharusan Izin Pemegang HPL dalam Pengalihan HGB

Pasal 34 ayat (7) PP 40/1996 secara tegas menentukan bahwa peralihan HGB di atas HPL harus dengan persetujuan tertulis dari pemegang HPL.

V. Keabsahan AJB Tanpa Izin Pemegang HPL

AJB yang dibuat tanpa izin pemegang HPL adalah batal demi hukum, tidak menimbulkan akibat hukum, dan tidak dapat dijadikan dasar pendaftaran hak.

VI. Pertanggungjawaban PPAT

PPAT wajib memastikan terpenuhinya syarat formil dan yuridis. Pengabaian izin pemegang HPL dapat menimbulkan tanggung jawab administratif dan perdata, serta pidana apabila terdapat unsur kesengajaan.

VII. Kesimpulan Hukum

AJB atas HGB di atas HPL tanpa izin pemegang HPL adalah batal demi hukum, dan PPAT dapat dimintai pertanggungjawaban sesuai tingkat kesalahannya.

Lanjutkan Membaca

Artikel ini merupakan bagian dari ADIABEL – Reading Room, yang mengulas hukum pertanahan, kewenangan PPAT, dan kepastian hukum dalam pengalihan hak atas tanah.

I. Legal Issues

  1. Is a Deed of Sale and Purchase (AJB) over Building Use Rights (HGB) on Management Rights (HPL) legally valid if executed without written consent from the HPL holder?
  2. What forms of liability may arise for the PPAT who executes such AJB?

II. Legal Position of Management Rights (HPL) in the Land Law System

Indonesian land law recognizes three land statuses: state land, land rights, and customary land. Management Rights (HPL) do not constitute land rights, but rather a partial delegation of the State’s Right of Control.

Doctrinal views:

  • Boedi Harsono asserts that HPL is not a land right, but a fragment of the State’s right of control.
  • Maria S.W. Sumardjono states that HPL represents delegated state authority.

III. Lawful Acquisition and Use of HGB over HPL

HGB over HPL arises from a legal relationship between the HPL holder and third parties, formalized through agreements, consent, granting of rights, and registration.

IV. Mandatory Consent of HPL Holder

Article 34 paragraph (7) of Government Regulation No. 40 of 1996 expressly requires written consent from the HPL holder for any transfer of HGB over HPL.

V. Validity of AJB without HPL Consent

An AJB executed without such consent is null and void, produces no legal effect, and cannot serve as a basis for land registration.

VI. Liability of PPAT

PPATs bear responsibility to ensure compliance with formal and legal requirements. Failure may result in administrative and civil liability, and criminal liability if intent is proven.

VII. Legal Conclusion

Legal certainty in land law depends not merely on certificates, but on adherence to the authority structures that give rise to land rights.

Continue Reading

This article forms part of ADIABEL – Reading Room, examining land law, PPAT authority, and legal certainty in land rights transfers.

Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content